Selasa, 11 Maret 2014

CerPen Horor

Teror Boneka Itu

















Pada hari itu Vivian membantu ibunya membongkar gudang yang ada di rumahnya. Tiba-tiba ia menemukan boneka beruang warna pink, ia melihat di telapak kaki boneka itu ada angka 12 yang merupakan tahun dibuatnya. Lalu ia mencuci boneka itu, dan membawa boneka itu ke kamarnya. Setibanya di kamar, ia meletakan boneka itu di atas meja belajarnya. Tiba-tiba ibunya memanggilnya untuk makan malam. Vivian pun meninggalkan kamarnya, dan menuju ruang makan.
Ketika kembali ia terkejut karena boneka itu berada di tempat tidur. Dia akhirnya mengambil keputusan positive thinking. Akhirnya dia menyingkirkan boneka itu ke meja belajar, dan tidur.Esoknya setelah pulang sekolah, ia segera mengambil handuk dan mandi. Ketika sedang mengambil handuk di kamarnya, ia melihat boneka itu menatap tajam ke arahnya. Ia segera bergegas ke kamar mandi.
Ketika sudah selesai mandi, ia kembali ke kamar tidur. Tiba-tiba, ia teringat bahwa ia belum mengerjakan PR MTK. Ketika ia sedang asyik mengalikan bilangan, ia mendengar suara geraman. Dia menengok ke arah datangnya suara. Ternyata datangnya dari boneka beruang itu. Dia segera mengambil boneka itu, dan membuang ke bak sampah yang ada di depan rumahnya.
Esoknya, sekitar jam 5 sore ibunya dan ayahnya pergi ke kondangan. Dia sendirian karena kakaknya sedang pergi ke rumah temannya. Ia memutuskan melewatkan waktunya dengan membaca komik. Ketika ia melayangkan pandangannya ke meja belajar, ia terkejut karena boneka itu ada di atas meja belajarnnya. Tiba-tiba boneka itu mendekatinya. Vivian bergerak mundur. Tiba-tiba matanya berkunang-kunang, dan ia pingsan.
Ketika bangun ia sudah berada di sebuah ruangan yang sudah bobrok. Ia segera bangun. Tiba-tiba datang banyak boneka dari segala arah. Vivian tidak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba datang boneka beruang itu. Boneka itu membawa pedang. Vivian segera mundur ketakutan. Terlambat pedang itu telah membabat leher Vivian. telapak kaki boneka itu berubah menjadi angka 13.The End
Misteri Rumah Tua

















Langit berwajah suram pertanda hujan akan turun, aku bergegas berlari menyelamatkan diriku dari rintik-rintik hujan yang mulai membasahi tubuhku.
Padahal baru saja ku berangkat menuju sekolahku yang tidak jauh dari rumahku, di saat dingin mulai menghantui tubuhku ku lihat seorang anak kecil sedang berdiri melamun menundukkan kepalanya, karena diriku yang penasaran ku hampiri anak itu dengan perlahan.
“dik, adik kenapa sendirian saja?”
Ia hanya diam, tiba-tiba muncul hawa tidak enak di dalam tubuhku, jelas saja hanya kami berdua yang berada di emperan toko yang sudah lama mati, yang konon dikata orang angker, tiba-tiba tangan kecilnya menarik bajuku, pertanda ia ingin menunjukan sesuatu, kemudian ku ikuti langkah kecilnya menuju suatu tempat, tempat yang asing bagiku, aku merasa sebelumnya aku belum pernah melihat tempat ini.
“dik, adik mau kemana? Tempat apa ini?” tanyaku dengan penuh keheranan, mungkin ini adalah rumahnya, batinku
Tiba-tiba jari kecilnya menunjukan sebuah rumah tua yang cukup besar nan kuno, setelah anak ini membuatku penasaran, ku hampiri rumah itu hingga tiba tepat di depan pintu kayu yang sudah lapuk dimakan usia.
“pemisi apakah ada orang?” sambil mengetuk pintu
“aaagggkkkhhh!!!” Betapa kagetnya aku setelah melihat siapa yang membukakan pintu, seorang ibu yang tidak ada matanya, penuh dengan luka dan darah, aku bergerak mundur berusaha menganggap ini adalah halusinasiku saja, tapi ku merasa tubuhku menyenggol sesuatu dan kulihat ternyata anak kecil itu juga sama dengan apa yang tadi aku lihat di dalam rumah itu, tidak cuman satu tapi banyak orang yang kondisinya mengenaskan meminta tolong kepadaku, mereka perlahan menghampiriku, mengepungku dan hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri.
“dek, bangun dekk!”
Aku perlahan membuka mataku melihat seorang pemulung membangunkanku, lalu ia menceritakan semuanya bahwa ia menemukan ku di dalam toko itu, dan konon katanya sebelum dibangun pertokoan, ada rumah yang dibantai oleh perampok dan jasadnya masih di biarkan begitu saja hingga waktu berlalu, seorang membangun pertokoan tepat di atas rumah itu, hingga penghuni merasa terganggu akan keberadaan toko itu dan akhirnya ia gulung tikar karena sering merasakan penampakan setiap harinya.
Dan setiap orang berdiam diri disitu akan ditampakan oleh anak kecil yang ingin memberitahu agar jasad mereka semua dikubur selayaknya.
“Intannn!” teriak kakak ku dari kejauhan
Lalu kakak ku bilang aku sudah menghilang dari rumah sejak 13 hari yang lalu. Sejak saat itu aku tidak pernah berangkat sekolah sendirian dan tiap kali aku melihat pertokoan tersebut anak kecil dan keluarganya melambaikan tangan sambil menunjukan senyum mistis kepadaku.
Diary Berdarah











Bel istirahat tanda anak-anak boleh pulang, berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Tetapi ada 1 anak yang tertinggal di kelas namanya Desy, karena dia harus mengerjakan remidi yang diberikan gurunya.
Setelah remidi dia bergegas keluar kelas. Untuk menuju gerbang sekolah dia harus melewati ayunan berwarna merah. Ketika ia melihat ayunan itu ia melihat diary bersampul cokelat. Desy pun memungut diary itu. Karena sudah terlalu siang, Desy pun memasukan diary itu ke tas ranselnya, dan berjalan pulang.
Di rumah, Desy segera ganti baju dan mengerjakan PR. Tetapi ketika memasukan tangannya ke dalam ransel, Desy pun teringat akan diary itu dan mengambilnya. Ternyata halaman diary itu kosong dan hanya berisi 2 halaman saja. Desy pun meletakan diary itu di atas meja, lalu membuat PR yang belum sempat ia buat.
Besoknya ketika pulang sekolah, tiba-tiba pacarnya, Dylan tiba-tiba memutusnya dengan alasan sudah tidak mencintainya. Dinda pun berlari pulang karena sedih. Di kamarnya dia segera mengambil diary cokelat yang ditemukannya di ayunan. Di diary itu dia menuliskan “aku ingin Dylan kembali mencintaiku lagi.
Tiba-tiba Hp Desy berbunyi tanda ada SMS. Ternyata dari Dylan. Isinya begini “Desy, setelah aku berpikir lagi, aku masih mencintaimu.” Desy senang, tapi dia telah berpikir ingin memutusnya saja.
Setelah berpikir agak lama, dia mulai merasa bahwa diary itu yang menyebabkan Dylan kembali mencintainya. Lalu dia mencoba menulis “semoga Kak Nilson membelikanku boneka beruang besar” tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. “Masuk.” Seru Desy. Ternyata Kak Nilson membelikannya boneka beruang yang besar.
Setelah Kak Nilson keluar, dia mengisi halaman diary itu. Dan anehnya semua yang dia tuliskan pasti terjadi. Tak hampir 2 halaman pun habis. Tiba tiba dia merasa mengantuk dan tidur.
Besoknya setelah pulang sekolah dia merasa ada yang membisikan agar jangan mengisi diary itu lagi dan mengembalikan ke ayunan. Tapi di hanya mengira halusinasi. Dia pun mengikuti pelajaran dengan baik.
Pulangnya dia melihat. Boneka lucu yang sangat mahal, sehingga tidak mungkin menggunakan uang sakunya. Tetapi dia ingat diary cokelatnya. Dia segera berlari pulang dan menuliskan keinginannya. Ketika bolpointnya diangkat, tiba-tiba dia ditarik masuk ke dalam diary. Lalu dia merasa pusing dan pingsan sesaat. Ketika dia sadar dia sudah berada di ruangan. Dihadapannya ada perempuan yang langsung mencekiknya hingga mati.
Esoknya sang diary kembali mencari tumbal lagi.
The End

Thanks For Reading